indonesiashippingline.com

Switch to desktop Register Login

Kemenperin Tingkatkan Daya Saing Tujuh Industri Nasional

JAKATA (Shipping Line News) -Menteri Perin­dustrian (Menperin), MS Hidayat, mengaku khawatiran akan kesiapan Indonesia menghadapi AEC yang dua tahun lagi akan diberlakukan.

Kekhwatiran itu, dikarenakan belum siapnya berbagai infrastruktur hingga masih tingginya  biaya logistik di Tanah Air.

Dalam satu kesempatan Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan biaya logistik saat ini masih 16 persen dari total biaya produksi. Normalnya maksimal hanya 9 persen. Jika kondisi ini tidak terus membaik, nantinya Indonesia hanya akan menjadi penonton,"ujarnya.

Dikatakan Menteri, pada 2015 nanti, Indonesia ber­sama sembilan negara anggota Asean lainnya, mendeklarasikan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (Asean Economic Community).

"AEC bertujuan untuk men­ciptakan Asean sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Dimana akan terjadi free flow atas barang dan jasa, faktor produksi, investasi dan modal, serta penghapusan tarif bagi per­dagangan antar negara Asean," tuturnya.

Kemudian kata Menteri, tanta­ngan AEC itu adalah bagaimana pengawasan atas barang impor, perlindungan terhadap unfair trade, penyelundupan infra­struktur dan biaya logistiknya.

"Kami, me­man­dang masih terdapat tujuh cabang industri yang masih perlu ditingkatkan daya saingnya. Disam­ping itu, sembilan komoditas in­dustri telah diprioritaskan untuk memasuki pasar Asean, karena miliki daya saing relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya," ungkapnya.

Ketujuh cabang industri yang perlu ditingkatkan daya saingnya, kata Menteri adalah otomotif dan elektronik. Kemudian semen, pa­kaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman serta furnitur.

"Sedangkan sembilan komoditas industri yang diprioritaskan untuk memasuki pasar Asean dan memiliki daya saing yang relatif lebih tinggi, di antaranya produk berbasis agro (CPO, kakao dan karet). Yang lain, ikan dan produk olahannya, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kulit dan barang kulit.

Menurun

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI), Kemen­perin, Arryanto Sagala, menje­laskan soal penurunan peringkat daya saing Indonesia. Berdasarkan data Global Competitiveness Report 2011-2012, Indonesia berada di peringkat 46, atau berada di bawah negara Singapura yang berperingkat daya saing dua, Malaysia (21), Brunei Darussalam (28) dan Thailand (39).

“Hal yang sama terjadi pada periode 2012-2013, dimana pe­ringkat daya saing lndonesia turun menjadi 50 dari 144 negara, dengan posisi di bawah Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand,” ungkap Sagala.

Dikatakan Agus, sejumlah langkah peningkatan untuk daya saing itu harus dilakukan demi mendukung daya dukung iklim industri meng­hadapi AEC 2015. Langkah pening­katan daya saing itu adalah melalui penurunan biaya modal, biaya energi dan biaya logistik.

“Peningkatan daya saing ini harus dilakukan baik dalam jangka pendek, menengah, maupun pan­jang. Selain itu, ada jaminan paso­kan bahan baku, pengawasan impor untuk meredam produk ilegal dan optimalisasi pening­katan penggunaan produk dalam negeri,” Pungkasnya. (SLN).

 

 

 

@ PT ISL Media Nasional (ISL NEWS) Sejak Tahun 2012

Top Desktop version