indonesiashippingline.com

Switch to desktop Register Login

IPC Membaca Tren, Menyiapkan Lompatan

ISL NEWS (Jakarta) - Setiap INDUSTRI memiliki ten bisnis nya masing-masing, termasuk industri Pelabuhan sebagai salah satu simpul utama aktifitas perekonomian, posisi pelabuhan juga tak luput dari gelombang perubahan dan maraknya beragam  tren baru seiring dinamika yang terjadi di masyarakat Nassional maupun global.

‘Change’ (Perubahan) itu pasti ada dan akan selalu terjadi setiap saat. Tidak bisa dihindari. Hal paling sederhana saja, misalnya, terkait tren kapal yang datang ke pelabuhan, kian hari trennya  lebih ke jenis (kapal) size besar . Kenapa? Karena pasar menuntut adanya  efisiensi  , sehingga bisa membawa barang yang jauh lebih banyak dalam sekali angkut.

Dengan adanya tren yang terjadi, maka tidak adalagi yang bisa dilakukan oleh IPC selain mencoba membacanya secara tepat dan segera berbenah diri untuk bersiap memenangkan pasar di tahun ini (2020). Dengan adanya tren kapal besar tadi, misalnya,  maka yang dibutuhkan salah satunya adalah kedalaman laut atau kolam pelabuhan di dermagayang mencukupi.Untuk kapal-kapal besar bisa bersandar maka tingkat kedalaman yang dibutuhkan setidaknya sekitar  14 meter dari permukaan air, dan tentu tergantung  draft kapal (kedalaman lambung kapal) yang mau sandar di dermaga, Untuk amannya  draft  dermaga di atas 14 Meter.

Selain soal tren kebutuhan infrastruktur secara fisik, gelombang digitalisasi juga bakal cukup mengubah arah perkembangan bisnis di dinustri pelabuhan secara signifikan.

Dengan makin banyaknya negara yang mulai menerapkan ekosistem jaringan 5 G, maka kebutuhan terhadap peningkatan level otomasi dan digitalisasi dalam sistem kinerja operasional pelabuhan diyakini bakal meningkat cukup pesat.

Pelabuhan Hamburg di Jerman misalnya , telahb menginisiasi uji coba penerapan tekhnologi 5G demi mengoptimalkan berbagai  berbagai jenis kinerja di lapangan, sepertin untuk memonitor aktifitas operasional sehari-hari dengan sistem yang lebih ’pintar’.                

Di lain pihak , tren penggunaan tekhnologi 5 G dengan sendrinya juga  mempermudah sekaligus mempercepat lalu lintas pertukaran data –data penting antar berbagai pihak terkait yang ada di pelabuhan. Menyesuaikan diri dengan tren tersebut, IPC kini  juga  tengah bersiap bertarnsformasi dari semula conventional port secara bertahap menjadi digital port. Tuntutan ini tidak bisa dihindari lagi, karena pasar yang harus IPC layani juga terus going to digital. Maka saat ini IPC telah mempunyai sistem yang digitalized namanya Terminal  Operating  System (TOS).  IPC  saat ini juga telah memiliki dan mengoperasikan Non Petikemas Terminal Operating System atau dikenal dengan sebutan NPK  TOS.

Melalui kedua system itu IPC bisa memantau kapal-kapal yang akan sandar secara realtime mulai dari mereka berangkat dari pelabuhan asal, membawa barang apa saja, dan merapatnya nanti di dermaga mana , berapa lama akan merapat dan sebagainya, semua  data itu sudah tersedia secara online.

Dengan adanya proses digitalisasi yang dilakukan, maka secara otomatis kinerja IPC di lapangan juga semakin cepat, transparan dan efisien. Dengan digitalisasi saat ini, maka berbagai permasalahan klasik yang selama ini menjadi ‘berita miring’ bagi industri pelabuhan nasional kini telah terpecahkan lewat program digitalisasi  tersebut. Salah satunya  adalah terkait  dwelling time yang dianggap masih terlalu lama dibanding pelabuhan-pelabuhan di Negara  lain. Konsumen dulu sering mengeluh dwelling time bisa  6 hingga 7 hari , kini dengan adanya digitalisasi di IPC maka  dwelling time sudah kurang dari 3 (tiga) hari.

Dan kedepannya, pembenahan dari sisi kecepatan layanan di terminal menjadi salah satu prioritas bagi IPC mengingat 60 persen pendapatan perusahaan didapatkan dari ceruk  bisnis tersebut.

(Tim Redaksi ISL News/email:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

@ PT ISL Media Nasional (ISL NEWS) Sejak Tahun 2012

Top Desktop version