indonesiashippingline.com

Switch to desktop Register Login

IPC Telah Tangani Peti Kemas LCL Sejak 2012

SEBAGAI bagian dari usaha untuk memberikan pelayanan yang optimal, pada tahun 2012 lalu, IPC telah melakukan berbagai langkah pengembangan korporasi seusia dengan standar international. Sebelumnya IPC hanya memiliki 5 anak perusahaan dan afiliasi.

Namun sejak 2012, IPC membentuk 5 anak perusahaan baru dan mempesiapkan diri untuk pembentukan sedikitnya 5 anak perusahaan lain berikutnya (2013).

Sejalan dengan itu, IPC telah mengakselerasi perubahan penanganan bisnis. Perusahaan yang semula bekerja secara regional base, berubah menjadi business base. Melalui pembentukan anak perusahaan yang lebih fokus  dan optimal dalam menangani masing-masing line businessnya.

Maka kedepannya IPC diharapkan akan menjadi entitas operator terminal yang dapat memberikan pelayanan operasional lebih baik, sehingga IPC mampu memberikan end to end port solution, kepada para pengguna jasa.

Upaya peningkatan kinerja perusahaan tidak hanya di tentukan oleh kapabilitas internal perusahaan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama yang memiliki relevansi dan kepentingan sesama dalam pengembangan kepelabuhanan, misalnya terkait dengan aspek transportasi, pembiayaan dan regulasi.

Pertumbuhan arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Priok setiap tahunnya terus menunjukkan peningkatan yang sangat tinggi. Bila dilihat, pada periode 2011 sampai 2012 dengan angka pertumbuhan volume peti kemas waktu itu lebih dari 20 persen.

Dan sejalan dengan terus bertumbuhnya volume Peti kemas itu, IPC memberikan pelayanan secara langsung ataupun tidak langsung.

Adapun penanganan secara tidak langsung oleh IPC berupa kegiatan penanganan petikemas Less Than Container Load (LCL).

Penanganan peti kemas LCL impor seyogyanya dilaksanakan oleh terminal petikemas dengan menyediakan gudang Contener Freight Station CFS di dalam lokasi Terminal Petikemas, namun dalam kenyataannya dari seluruh Terminal Petikemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok tidak tersedia fasilitas CFS.

Hal ini disebabkan salah satunya oleh keterbatasan lahan. Dalam prateknya, penanganan petikemas LCL dilaksanakan di gudang CFS milik IPC yang dioperasikan sendiri oleh pihak mitra kerja maupun gudang CFS milik swasta yang berlokasi di luar pelabuhan.

Permasalahan yang timbul dan menyebabkan biaya tinggi adalah terdapatnya skema bisnis antara pihak pengelola pelabuhan dan pengelola gudang CFS dengan consignee dengan memanfaatkan kegiatan penanganan petikemas LCL di luar terminal petikemas dengan menerapkan struktur tarif dan besaran yang tidak berbasis kepada biaya pokok produksi kegiatan yang wajar,.

Biaya-biaya penanganan tinggi yang dimaksud muncul dalam bentuk biaya dokumen, minimum charges, biaya administrasi, biaya sewa gudang serta  biaya mekanis yang tidak wajar.

Pengendalian biaya penanganan tersebut diyakini sebagai upaya efektif untuk menurunkan biaya pelayanan penanganan Peti Kemas LCL. Untuk itu sejak 2012 lalu semua penanganan petikemas LCL diatur dan dikelola dibawah manajemen IPC Cabang Tanjung Priok, sejak berupa Peti Kemas LCL sampai dapat diambil oleh conignee atau pemilik barang.

Proses layanan terpadu itu meliputi Gudang CFS yang akan terletak di dalam Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Proses pengelolaan dan pendistribusian ditentukan oleh cabang Pelabuhan Tanjung Priok dan penerapan single billing juga dikelola langsung oleh IPC cabang Pelabuhan Tanjung Priok. (Tim ISL).

@ PT ISL Media Nasional (ISL NEWS) Sejak Tahun 2012

Top Desktop version