indonesiashippingline.com

Switch to desktop Register Login

Pacu Layanan, TPK Koja Terapkan Cargolink

Guna meningkatkan layanan ke[ada pelanggannya, manajemen TPK Koja, sejak beberapa bulan terakhir menerapkan Sistem Cargolink, sistem yang terintegrasi dengan seluruh customer terminal itu.

Hingga saat ini pelayanan barang di pelabuhan petikemas masih menjadi hal yang dianggap menyulitkan pengguna usaha (pemilik barang) dalam melakukan ekspor-impor, dikarenakan proses pelayanannya masih manual.

Interaksi antara pemilik barang, perusahaan pelayaran sebagai pengangkut barang, terminal petikemas, perbankan, Bea dan Cukai, instansi penerbit perijinan dan perusahaan truk pengangkut petikemas tidak seluruhnya terhubung secara elektronis.

Pemerintah, selama ini telah berinisiatif untuk membantu percepatan arus barang di pelabuhan melalui INSW (Indonesia National Single Window) yang saat ini sudah terimplementasi di 10 pelabuhan terbuka untuk perdagangan international.

Percepatan arus barang melalui INSW selama ini cukup membantu pada proses custom clearance, sebab proses interaksi antara Bea dan Cukai dengan instansi penerbit perijinan tidak lagi dilaksanakan secara manual, akan tetapi menggunakan sebuah sistem elektronis yang dikenal dengan sebuah sistem single window.

Meski demikian proses electronic Custom clearance ini ternyata dirasakan akan lebih efektif apabila ditunjang oleh proses pengeluaran barang di pelabuhan secara elektronis pula, dimana apabila pemilik barang sudah mendapat ijin pengeluaran barang dari bea cukai dapat mengurus pengeluaran fisik barangnya dari terminal peti kemas melalui sistem elektronis yang pada akhirnya diyakini bahwa melalui seluruh sistem elektronis ini, maka dwelling time (masa penumpukan barang) di pelabuhan akan dapat dipersingkat.

Atas dasar itu kiranya, Terminal Peti Kemas (TPK) Koja sejak pertengahan November (2012) lalu, bekerja sama dengan PT EDI Indonesia, sebuah perusahaan penyelenggara jasa sistem informasi berbasis transaksi elektronik, sejak tahun 2011 mengembangkan sebuah sistem integrated cargo release yang dinamakan ‘Cargolink’.

General Manager TPK Koja, Ade Hartono, mengatakan sistem Cargolink tersebut mengintegrasikan pelayanan perusahaan pelayaran dan forwarding agent, Terminal Peti Kemas, Bank dan perusahaan Trucker ke Pemilik Barang secara full elektronis.

“Terintegrasi mulai dari proses pengurusan order pemilik barang ke shipping lines/forwarding Agent, pengurusan invoice dari Terminal Peti Kemas Koja, Pembayaran biaya jasa container handling ke Bank, sampai pemesanan truk pengangkut container seluruhnya dilakukan secara elektronis tanpa harus hadir ke Terminal Peti Kemas Koja. Begitupun proses pengeluaran barang dari terminal peti kemas oleh truk dilakukan melalui sistem RFID,” ujarnya.

Dan terbukti pada masa ujicoba sistem Cargolink ini, kata Indra, PT Toyota Motor Manufacture Indonesia (TMMIN) dengan Freight Forwarding dan Perusahaan Truk Pengangakutnya, beserta Bank CIMB Niaga sebagai Bank Pelaksana e-payment, telah berhasil melakukan ujicoba dengan mempersingkat dwelling time clearancenya lebih dari 50 persen.

“Dari yang semula dwelling times perlu waktu rata-rata 4 hari maka dengan sistem cargolink, hanya perlu waktu 2 hari, “ kata Ade.

Bahkan kata I Made Danea, Direktur Utama TMMIN, pada waktu-waktu tertentu sistem cargolink mampu mempersingkat layanan hingga 20 jam saja.

"Ini satu hal yang luar biasa dan baru pertama terjadi di Indonesia, sebab rata-rata dwelling time di sejumlah pelabuhan utama itu antara 4,8 hingga 6,7 hari, karena banyaknya pemeriksaan (secara manual) dari sejumlah instansi di pelabuhan,”ungkapnya.

Dengan sistem cargolink itu, kata I Made, akan memicu produktifitas perusahaan yang dipimpinnya. “Dan kami harapkan sistem cargolink dapat diterapkan di seluruh pelabuhan utama di seluruh Indonesia,” harapnya.

Dikembangkan

Sementara Asisten Menteri Perekonomian, Edy Putra Irawady yang membuka acara launching sistem cargolink waktu itu mengatakan, sistem cargolink merupakan salah satu jawaban dari persoalan daya saing.

“Daya saing industri pelabuhan nasional selama ini rendah baik ditingkat lokal apalagi global, itu terjadi karena tingginya dwelling times yang mencapai angka 6-7 hari bahkan bisa lebih. Nah dengan sistem cargolink dwelling times bisa ditekan hingga 2 hari saja. Ini satu hal yang harus segera dilakukan di seluruh pelabuhan utama nasioal,” ujarnya.

Dengan kata lain, kata Irawady, persoalan daya saing kepelabuhanan selama ini disebabkan karena birokrasi (usaha), regulasi dan kepatuhan seluruh stakeholder kepelabuhanan.

“Dengan sistem elektronik atau sistem online (cargolink) maka persoalan birokrasi dan kepatuhan berusaha di pelabuhan bisa diatasi,” tandasnya.

Untuk itu, kata Irawady, pihaknya sangat mendukung sistem cargolink segera dikembangkan di seluruh pelabuhan utama di Indonesia, mulai dari Belawan, Tanjung Perak, Makassar dan sejumlah pelabuhan yang selama ini terbuka untuk perdagangan international atau ekspor-impor.

“Karena dengan begitu, maka secara nasional kita terintegrasi dan secara global sudah pasti kita terkoneksi,” imbuhnya. (SLN).

 

 

 

 

@ PT ISL Media Nasional (ISL NEWS) Sejak Tahun 2012

Top Desktop version